Pemkot Balikpapan Larang Iklan Rokok, Pendapatan PAD Turun Drastis
Anggota Komisi I DPRD
Kota Balikpapan, Ardianto
POSKOTAKALTIMNEWS,BALIKPAPAN: Dalam upaya
menjadikan Balikpapan sebagai Kota Layak Anak (KLA), Pemerintah Kota Balikpapan
mengambil langkah tegas dengan melarang seluruh bentuk reklame atau papan iklan
rokok di seluruh wilayah kota.
Kebijakan
ini diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan ramah anak.
Namun, kebijakan ini ternyata membawa dampak signifikan terhadap Pendapatan
Asli Daerah (PAD) yang biasanya diperoleh dari pajak reklame rokok.
Anggota
Komisi I DPRD Kota Balikpapan, Ardianto, menyatakan kekecewaannya terkait
penurunan PAD akibat larangan tersebut. Data dari Badan Pengelola Pajak Daerah
Retribusi Daerah (BPPDRD) Balikpapan menunjukkan bahwa PAD mengalami penurunan
sebesar Rp 5 miliar.
"Ini
berkaitan dengan penurunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dari
PAD, maka harus ada solusi lain yang dilakukan oleh Pemerintah Kota,"
ungkap Ardianto.
Meskipun
kecewa, Ardianto tetap mendorong Pemerintah Kota Balikpapan untuk menemukan
terobosan baru guna mengatasi kekurangan PAD yang mencapai miliaran rupiah
tersebut.
Menurutnya,
dengan strategi yang tepat, penurunan PAD ini bisa ditutupi bahkan mungkin
dapat menghasilkan pendapatan yang lebih besar bagi keuangan kota.
Ia
juga menekankan pentingnya kreativitas dan inovasi dalam mencari sumber
pendapatan alternatif yang tidak hanya menggantikan pajak reklame rokok, tetapi
juga memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat.
Salah
satu solusi yang diusulkan adalah meningkatkan sektor pariwisata dan industri
kreatif di Balikpapan. Dengan potensi alam dan budaya yang dimiliki, Balikpapan
dapat mengembangkan destinasi wisata yang menarik serta mendukung pertumbuhan
ekonomi kreatif yang dapat mendongkrak PAD.
Selain
itu, pemerintah juga dapat mengoptimalkan potensi pajak dari sektor lain,
seperti pajak hiburan, restoran, dan perhotelan.
Larangan
iklan rokok ini merupakan langkah positif untuk menjadikan Balikpapan sebagai
lingkungan yang lebih ramah anak.
Tantangannya kini adalah
bagaimana Pemerintah Kota Balikpapan dapat menyeimbangkan antara komitmen
terhadap kesehatan publik dan kebutuhan finansial kota, sehingga kota ini tetap
maju dan sejahtera tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip kesehatan dan
kesejahteraan masyarakatnya.(adv/rud)